makalah larangan riba

            Tugas Kelompok                                                             Dosen pengasuh

            Hukum perbankan Syariah                                           Sa’adah, S.Ag.MH

 

”LARANGAN RIBA DALAM ISLAM”

 

 

 

 

 Disusun Oleh :

Dewi Ratnasari:1101160188

Ma’rifatul Makhfujah:1101160214

Zimah :1101160256

M.Husniyudatama:1101160288

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH

2013

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

            Segala puji bagi Allah yang melimpahkan karunia-Nya kepada kita sehinnga kami dapat menyelesaikan makalah hukum perbankan Sayariah ini. Materi dalam makalah ini , telah banyak disampaikan di masyarakat, disekolah, baik dalam bentuk ceramah maupun perkuliahan mahasiswa s-1 atau yang lainnya.

            Teknis penulisan makalah ini, selain mengutip dari beberapa literature dalam bentuk buku juga ada menggunakan pengutipan melaluitulisatulisan pakar hukum ekonomi syariah, baik di Indonesia maupun dari negeri lainnya. Kami selaku penulis mengharapkan saran dan kritikan baik dari disiplin ilmu hukum maupun ilmu ekonomi syariah. Kami amat menghargai saran dan kritikan dari siapapun juga, sekaligus mengucapkan terima kasih.

            Semoga makalh ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu hukum syariah pada umumnya dan khususnya ilmu hukum perbankan syariah.

Amien ya robbal ‘alamin.

                                                                                               

                                                                                                Banjarmasin, Maret 2013

                                                                                                               Penulis

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaainuddin .2008.Hukum perbankan Syariah. Yogyakarta:Sinar Grafika.

Arifin, Muhammad  2009 Riba dan tinjauan Kritis perbankan Syariah. Bogor:pustaka darul ilmi.

Jamili, Rusdi. 2006. Menggali Islam. Yogyakarta: pustaka Insan Madani.

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang       

Syariat Islam bersifat universal, mencakup segala urusan, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah ataupun muamalah, sehingga syariat islam benar-benar seperti yang Allah firmankan:

4 tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# ’Îû >p|ÁuKøƒxC uŽöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b}   ¨bÎ*sù ©!$# ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÈ  

“pada hari ini, telah aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan atas kalian kenikmatan-Ku, dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.(QS.Al-Maa’idah:3).

            Berbagai upaya dan lembaga didirikan guna mendorong penerapan syariat yang maha adil, berbagai lembaga yang berbasis islam diantaranya ialah perbankan syariah.Ini semua merupakan semakin tumbuhnya kesadaran umat islam tentang bahaya riba.

            Kita akan berusaha mengenal lebih dekat tentang Riba yang sering kita dengar istilahnya dalam dunia perbankan, dengan memahami hal tersebut, diharapkan kita dapat memahami hakikat perbankan syariah yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

RIBA

 

A.Definisi Riba

            Ditinjau dari ilmu bahasa arab riba bermaknakan: tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi.

            Firman allah ta’ala berikut merupakan contoh nyata akan penggunaan kata riba dalam pengertian semacam ini:

“ts?ur šßö‘F{$# Zoy‰ÏB$yd !#sŒÎ*sù $uZø9t“Rr& $ygøŠn=tæ uä!$yJø9$# ôN¨”tI÷d$# ôMt/u‘ur ôMtFt6/Rr&ur `ÏB Èe@à2 £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÎÈ  

            Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi tinggi dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.(QS. Al-Hajj:5).

         Adapun dalam pemahaman syariat, maka para ulama berbeda-beda ungkapannya dalam mendefinisikannya, akan tetapi maksud dan maknanya tidak jauh berbeda. Diantaranya adalah:

         “Suatu akad/transaksi atas barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syariat atas dengan menunda penyerahan kedua barang menjadi obyek akad atau salah satunya.

B.hukum Riba

         Tidak asing lagi bahwa adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat islam.

Firman allah;

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qè=à2ù’s? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿy軟ҕB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ  

Artinya; Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berliat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan,’’(QS.Ali Imran; 130

C. Lima alasan diharamkannya riba

Pertama; pemakan riba akan dihinakan dihadapan seluruh makhluk, yaitu ketika ia dibangkitkan dari kuburnya, ia dibangkitkan bagaikan orang kesurupan lagi gila.

         Kedua; pemegasan bahwa riba diharamkan olh allah ta’ala, sehingga tidak termasuk kedalamperniagaan yang nyata-nyata dihalalkan.

         Ketiga; ancaman bagi orang yang tetap menjalankan praktik riba setelah datang kepadanya penjelasan dan setelah ia mengetahui bahwa riba diharamkan dalam syari’at islam, akan dimasukkan keneraka.

         Ke empat; Allah ta’ala mensipati pemakan riba adalah sebagai’’ orang yang senantiasa berbuat kekafiran atau ingkar, dan selalu berbuat dosa.

         Kelima; Allah menjadikan perbuatan meninggalkan riba sebagai bukti akan keimanan seseorang, dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang tatap memekan riba berarti iman nya cacat dan tidak sempurna.

D. Macam-macam riba

1. riba nasi’ah/ penundaan

Yaitu riba / tambahan yang terjadi akibat pembayaran yang tertunda pada akad tukar menukar dua barang, baik satu jenis maupun berlainan jenis dengan menunda penyerahan salah satu barang atau kedua-duanya.

Contoh riba Nasi’ah:

Misal: Bila Adalah berhutang kepada B uang sejumlah Rp.100.000,- dengan perjanjian Adalah berkewajiban membayar piutangnya ini setelah satu bulan dari akad piutang, jika melewati batas maka si A memberikan tambahan.

2.Riba Fadhl

         Yaitu menukarkan benda-benda sejenis misalnya emas dengan emas, perak dengan perak, gandum denhgan gandum dan lain-lain.

         Misal: seorang memiliki 10 gram emas yang telah lama ia pakai, dan ia menginginkan untuk menukarnya dengan perhiasan emas yang baru , maka ia harus menukarnya dengan emas seberat 10 gram pula tanpa ada tambahan bayaran, bila membayarnya dengan tambahan maka ia telah terjatuh dalam riba.[1]

3.Riba Qard

            Yaitu semua kelebiahan yang disayaratkan terhadap yang berhutang.

4.Riba Jahiliyah

         Yaitu utang yang dibayar lebih pokoknya karena peminjam tidak mampu mengembalikan sesuai waktu yang ditetapkan.

E.Konsep Riba di Dalam Al-qur’an dan Hadits

a. Larangan riba dalam Alqur’an

Firman Allah SWT:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râ‘sŒur $tB u’Å+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇËÐÑÈ  

Artinya: Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman(QS. Al-Baqarah:278).

b. Larangan riba dalam hadits

Amanat nabi Muhammad saw, pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, yang menekankan sikap agama Islam tentang pelarangan riba:

Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan dia pasti akan menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba, oleh karena itu utang akibat riba harus dihapuskan. Modal kamu adalh hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan.

F. Alasan Pembenaran Pengambialn Riba

a. Darurat

Imam Suyuti menegaskan bahwa darurat adalah suatu keadaan seseorang yang tidak segeranmelakukan sesuatu tindakan dengan cepat maka akan membawanya kejurang kematian. Sama halnya dengan kasus orang yang sedang berada di hutan yang tidak terdapat makanan lain kecuali babi maka ia diperbolehkan memakan babi sesuai kadarnya.

b. Beda hukum dan taklif

         Sebagian ulama berpendapat bahwa ketika ayat Al-qur’an tentang riba turun dan disampaikan kepada nabi Muhammad saw, di jazirah Arab belum ada Bank Central Asia dan lain-lain., sehingga tidak terkena hukum taklif.

G. Perbedaan Investasi dengan Membungakan Uang

            Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung resiko karena berhadapan dengan unsure ketidakpuasan, oleh karena itu perolehn kembaliannya tidak tetap atau tidak pasti.

            Membungakan uang adalahkegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relative pasti dan selalu menguntungkan pihak yang membungakan uang.

H. Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil

Bunga

Bagi Hasil

Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi hanya selalu untung

Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung atau rugi.

Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang yang dipinjamkan

Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

 

I.Ijma Ulama Tentang Bunga Bank dan Dampaknya

            Perdebatan tentang halal-haramnya bunga Bank telah selesai 30 tahun yang lalu, kalau ada umat Islam yang masih mengatakan bunga bank adalah halal, berarti ia terlambat 30 tahun. Kalaupun ada tokoh yang berkomentar tentang kebolehan bunga bank, pastilah mereka bukan ahli dalam ekonomi .

            Dampak negatif riba

a.Dampak Ekonomi

            Utang, dengan rendahnya tingkat penerimaan peminjam dan tingginya biaya bunga, akan menjadikan peminjam tidak pernah keluar dari ketergantungan, terlebih lagi bila bunga atas utang tersebut dibungakan.

b.Dampak Sosial Kemasyarakatan

            Riba merupakan pendapatan yang tidak adil.[2]

I.Tahap Larangan Riba

            Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba merupakan sesuatu perbuatan taqarrub kepada Allah. Padahal pinjaman itu dari luar tampak pertolongan , namun sebenarnya  mencekik. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-rum ayat 39 :

!$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB $\/Íh‘ (#uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# Ÿxsù (#qç/ötƒ y‰YÏã «!$# ( !$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB ;o4qx.y— šcr߉ƒÌè? tmô_ur «!$# y7Í´¯»s9′ré’sù ãNèd tbqàÿÏèôÒßJø9$# ÇÌÒÈ  

“Dan suatu riba / tambahan yangkamu berika agar harta mausia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Aallah.”

            Tahap kedua, riba digambarkan suatu yang buruk. Allah memberikan ancaman keras kepada orang yang memakan riba.

ãNÏdɋ÷{r&ur (#4qt/Ìh9$# ô‰s%ur (#qåkçX çm÷Ztã öNÎgÎ=ø.r&ur tAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# È@ÏÜ»t7ø9$$Î/ 4 $tRô‰tGôãr&ur tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 öNåk÷]ÏB $¹/#x‹tã $VJŠÏ9r& ÇÊÏÊÈ  

Artinya; dan karena mereka menjalankan riba, padahal mereka sungguh telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah.(Q.S An-Nisaa:161)

            Tahap ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahn yang berlipat ganda.

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qè=à2ù’s? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿy軟ҕB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ  

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(Q.S Ali-Imran ayat 130)

            Tahap keempat, Allah dengan tegas dan jelas mengharamkan semua bentuk tambahan yang diambil dari pinjaman.

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râ‘sŒur $tB u’Å+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇËÐÑÈ   bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? (#qçRsŒù’sù 5>öysÎ/ z`ÏiB «!$# ¾Ï&Î!qߙu‘ur ( bÎ)ur óOçFö6è? öNà6n=sù â¨râä①öNà6Ï9ºuqøBr& Ÿw šcqßJÎ=ôàs? Ÿwur šcqßJn=ôàè? ÇËÐÒÈ  

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan rasul-Nya. Tetapi jika kamui tobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalaimi. (Q.S Al-baqarah:278-279)

            Demikianlah pada akhirnya riba dan segala bentuknya memang benar-benar diharamkan atas umat Islam.

Faktor penyebab riba dan cara menghialangkannya

Jenus riba

faktor

Cara menghindari

Riba Fadl

Gharar

Kedua belah pihak harus memastikan kualitas, harga dan waktu penyerahan

Riba nasiah

pengembalian pendapatan tanpa risiko

Kedua belah pihak membuat kontrak yang menyatakan tidak ada pengembalian yang tidak mengandung risiko.

Riba qard

Komersialisasi pinjaman sukarela

Jangan mengambil adalahpapun dari akad kebaikan.[3]

 

J.Hikmah diharamkannya Riba

            Wajib atas setiap orang muslim untuk berserah diri dan senantiasa ridha/ berlapang dada dengan hukum-hukum Allah, walaupun ia belum mengetahui alasan diwajibkan atau diharamkannya hal tersebut. Pada praktik riba, terjadi tindak pemanfaatan kesusahan orang-orang miskin, dan pelipatgandaan piutang atasnya. Ditambah lagi praktek riba akan menyulut api permusuhan dan rasa kebencian. Dan praktek riba menyebabkan masyarakat tidak produktif., karena mereka mals bekerja dan hanya mengandalkan bunga piutangnya.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Riba artinya pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.

Riba hukumnya haram sebagaimana yang telah diitetapkan syariat islam

Riba terbagi 4 jenis :

1.Riba Qard

2.Riba  Jahilliyah

3.Riba Fadl

4.Riba Nasi’ah

 


[1] Muhammad Arifin Bin Badri “Riba dan Tinjauan Kritis perbankan Syariah”,
(Bogor:pustaka Darul Ilmi,2009)hlm 1-20

[2] Prof. Dr. H. Zainuddin Ali “Hukum perbankan Sayriah” (Jakarta:Sinar Grafika,2008)hlm 92-127

[3] Khalimi, M.Ag., Drs.Rusdi Jamil, M.Ag “Menggali Hukum Islam” (Yogjakarta: pustaka insan Madani,2006)hlm 162-163

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s